Karya Sri Penny Alifiya Habiba
Aku kaku dalam almari kayu
dipajang dilihat sambil lalu
jangankan menyentuhku
sekedar membuka saja tak ada waktu
aku terkubur dalam lembaran bisu
tak menahu kapan aku di eja bersama waktu
aku bungkam tak tentu
sebagaimana mata mengelak karena adaku
tak ada yang pedulikan aku
merintih aku dalam kesakitan karena miskin pedulimu
aku adalah makna dari beribu milyaran ilmu
aku adalah ilmu yang tak kan usang dimakan waktu
aku adalah lembaran mutu
dan aku adalah harta karun dari segala ilmu
tapi kini aku sedang lara bak tersayat sembilu
karena aku sudah tidak dirindukan pecanduku
sudah tak di lirik oleh pengagumku
tak dibaca oleh penyandang kutu buku
betapa kejamnya waktu
karena aku tlah disingkirkan oleh penggemarku
tlah dibiarkan lapuk dalam almari kayu
warnaku dibiarkan menua tanpa dibaca
membiarkanku terpajang tanpa makna
membiarkanku jadi sampah gorengan
berserakan di tempat sampah meruah
wahai engkau yang peduli aku
tak pedulikan batasan usiamu
rawatlah aku
ejalah aku
bacalah aku
perkata kau maknakan
perlembar kau resapkan
perbuku kau interpretasikan
yakin adaku kan membawa penerang
yakin adaku menjadi jendela ilmu
yakin bahwa hadirku menjadi cakrawala pengetahuanmu
te te de Buku
Purwodadi, 15 Maret 2019
Puisi "Darurat Membaca" ditampilkan di acara penutupan Pameran Buku Dinarpusda 2019