Buku Please Look After Mom (Ibu Tercinta)

 

Judul           : Please Look After Mom (Ibu Tercinta)

Penulis         : Kyung – Sook Shin

Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan       : 2020

ISBN           : 978-6020315409

Klasifikasi    : 899.221 3

 

Resensi buku karya Kyung-sook Shin ini sengaja saya upload di hari peringatan Ibu R A. Kartini, karena saat membacanya “The Power of Wonder Women” terasa dari awal hingga akhir. Terasa setelah tiada, hal yang sering terjadi. Buku ini mengingatkan kita untuk selalu mensyukuri nikmat kasih sayang yang sering kita lalai dari seorang IBU karena menganggap itu sebagai hal yang lumrah, atau hal yang sudah seharusnya.

Kyung-sook Shin telah menulis sejumlah karya fiksi. Dia merupakan salah satu novelis Korea Selatan yang karyanya paling banyak dibaca. Dia telah mendapat penghargaan Manhae Literary Prize, Dong-in Literature Prize, dan Yi sang Literary Prize serta Prix de I’Ina percu dari Prancis.

Please look after mom (Ibu Tercinta) adalah buku pertamanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dan akan diterbitkan di sembilan belas negara. Dia bermukim di Seoul.

Buku ini diawali dari cerita sepasang suami-istri yang berangkat ke kota untuk mengunjungi anak-anak mereka. Sang suami bergegas naik ke gerbong kereta bawah tanah dan mengira istrinya mengikuti di belakangnya. Setelah melewati beberapa stasiun, barulah dia menyadari bahwa istrinya tidak ada. Istrinya tinggal di stasiun Seoul.

Perempuan yang hilang itu tak kunjung ditemukan dan keluarga yang kehilangan ibu/istri/ipar itu mesti mengatasi trauma akibat kejadian tersebut. Satu per satu mereka teringat hal-hal dimasa lampau yang kini membuat mereka tersadar betapa pentingnya peran sang ibu bagi mereka dan betapa sedikitnya mereka mengenal sosok sang ibu selama ini – perasaan-perasaannya, harapan-harapannya, dan mimpi-mimpinya.

Seperti yang dirasakan anaknya. Tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa dulu ibu juga pernah berumur tiga tahun, dua belas tahun, dua puluh tahun. Dalam pandangannya ibu adalah ibu, sejak lahir dia sudah menjadi ibu. Tak terpikir olehnya bahwa ibu juga manusia yang mempunyai perasaan –perasaan yang persis sama seperti kau dan saudara-saudaramu. Dan kesadaran itu membuka matanya bahwa ibu juga pernah memiliki masa kanak-kanak, sebagai anak perempuan, sebagai perempuan muda, sebagai pengantin baru, sebagai ibu yang baru saja melahirkanmu ke dunia.

Adapun bagi suaminya, wanita itu hanyalah ibu dari anak-anakmu, setelah ibu anak-anakmu hilang, baru disadarinya bahwa yang hilang itu adalah istrimu. Istrimu, yang telah diabaikan selama lima puluh tahun, ternyata hadir di dalam hatimu. Setelah dia hilang, barulah keberadaannya teResensi buku karya Kyung-sook Shin ini sengaja saya upload di hari peringatan Ibu R A. Kartini, karena saat membacanya “The Power of Wonder Women” terasa dari awal hingga akhir. Terasa setelah tiada, hal yang sering terjadi. Buku ini mengingatkan kita untuk selalu mensyukuri nikmat kasih sayang yang sering kita lalai dari seorang IBU karena menganggap itu sebagai hal yang lumrah, atau hal yang sudah seharusnya.

Kyung-sook Shin telah menulis sejumlah karya fiksi. Dia merupakan salah satu novelis Korea Selatan yang karyanya paling banyak dibaca. Dia telah mendapat penghargaan Manhae Literary Prize, Dong-in Literature Prize, dan Yi sang Literary Prize serta Prix de I’Ina percu dari Prancis.

Please look after mom (Ibu Tercinta) adalah buku pertamanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dan akan diterbitkan di sembilan belas negara. Dia bermukim di Seoul.

Buku ini diawali dari cerita sepasang suami-istri yang berangkat ke kota untuk mengunjungi anak-anak mereka. Sang suami bergegas naik ke gerbong kereta bawah tanah dan mengira istrinya mengikuti di belakangnya. Setelah melewati beberapa stasiun, barulah dia menyadari bahwa istrinya tidak ada. Istrinya tinggal di stasiun Seoul.

Perempuan yang hilang itu tak kunjung ditemukan dan keluarga yang kehilangan ibu/istri/ipar itu mesti mengatasi trauma akibat kejadian tersebut. Satu per satu mereka teringat hal-hal dimasa lampau yang kini membuat mereka tersadar betapa pentingnya peran sang ibu bagi mereka dan betapa sedikitnya mereka mengenal sosok sang ibu selama ini – perasaan-perasaannya, harapan-harapannya, dan mimpi-mimpinya.

Seperti yang dirasakan anaknya. Tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa dulu ibu juga pernah berumur tiga tahun, dua belas tahun, dua puluh tahun. Dalam pandangannya ibu adalah ibu, sejak lahir dia sudah menjadi ibu. Tak terpikir olehnya bahwa ibu juga manusia yang mempunyai perasaan –perasaan yang persis sama seperti kau dan saudara-saudaramu. Dan kesadaran itu membuka matanya bahwa ibu juga pernah memiliki masa kanak-kanak, sebagai anak perempuan, sebagai perempuan muda, sebagai pengantin baru, sebagai ibu yang baru saja melahirkanmu ke dunia.

Adapun bagi suaminya, wanita itu hanyalah ibu dari anak-anakmu, setelah ibu anak-anakmu hilang, baru disadarinya bahwa yang hilang itu adalah istrimu. Istrimu, yang telah diabaikan selama lima puluh tahun, ternyata hadir di dalam hatimu. Setelah dia hilang, barulah keberadaannya terasa begitu nyata, seolah-olah kau tinggal mengulurkan tangan untuk menyentuhnya.

Kita sadari betapa penting peran dan posisi ibu dalam hidup ini. Sayangi Ibu setiap saat seperti halnya kehadirannya melengkapi dan menyempurnakan hari-hari kita. (ArifahNR)rasa begitu nyata, seolah-olah kau tinggal mengulurkan tangan untuk menyentuhnya.

Kita sadari betapa penting peran dan posisi ibu dalam hidup ini. Sayangi Ibu setiap saat seperti halnya kehadirannya melengkapi dan menyempurnakan hari-hari kita. (ArifahNR)